Mengenal Sindroma Asperger, Apakah Sama dengan Autis?

Oleh: dr. Rona Hafida Heriyanto P.

Sindroma Asperger adalah gangguan perkembangan neurologis atau saraf yang tergolong ke dalam gangguan spektrum autisme. Gangguan spektrum autisme atau yang lebih dikenal autisme merupakan gangguan pada sistem saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sindroma Asperger sedikit berbeda dengan gangguan spektrum autisme lainnya. Pada autisme, penderitanya mengalami kemunduran kecerdasan dan penguasaan bahasa, sedangkan pada sindroma Asperger penderitanya mahir dalam kemampuan bahasa bahasa dan memiliki kognitif yang baik, bahkan memiliki IQ normal atau bahkan tinggi–di atas rata-rata.

Apabila kita bertemu dengan penderita sindroma Asperger, kita akan memikirkan dua hal: mereka pintar atau cerdas, sama seperti orang lain, namun mereka memiliki masalah dengan kemampuan bersosialisasi (1) dan mereka terlihat obsesif atau berfokus pada satu topik/hal, atau melakukan satu hal yang sama berulang kali (2). Autism Society di Maryland, AS, mengatakan bahwa banyak orang yang tidak familiar dengan Asperger dan hanya berpikir bahwa orang tersebut berkelakuan berbeda.

Anak dengan autisme biasanya dikenali dengan ketidakinginan mereka berbaur dengan orang lain, sedangkan pada anak yang memiliki Asperger, mereka secara umum ingin berinteraksi dengan orang lain namun mereka merasa kesulitan. Sebagai contoh, apabila kita berinteraksi dengan orang lain, kita akan mengetahui suasana hati lawan bicara kita dengan memperhatikan ekspresi, nada bicara, dan gestur tubuhnya, namun bagi orang dengan sindroma Asperger membaca tanda-tanda ini sangat sulit. Akibatnya, mereka kesulitan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Menurut National Autistic Society di Inggris, hal ini dapat menimbulkan kecemasan atau kebingungan.

Orang dengan Asperger merasa sulit untuk memahami peraturan sosial dan kurang memiliki empati. Penggunakan gerak tubuh mereka bisa jadi kurang atau tidak pada tempatnya, dan kontak mata mereka bisa jadi terbatas. Mereka kesulitan menunjukkan emosi–seperti tidak tersenyum ketika senang, tertawa menanggapi lelucon, bahkan mereka berbicara dengan intonasi datar, seperti robot.

Tatalaksana

Kondisi setiap anak bisa jadi berbeda, sehingga terapi anak dengan sindroma ini satu dengan yang lainnya mungkin berbeda, namun secara garis besar, tatalaksana atau terapinya dapat meliputi, antara lain:

  • Pelatihan keterampilan sosial

Program keterampilan sosial mengatasi masalah interaksi sosial untuk pengidap sindroma ini. Keterampilan yang diajarkan yaitu keterampilan percakapan hingga memahami isyarat sosial dan bahasa nonharfiah, seperti bahasa gaul dan ekspresi yang umum digunakan (slang).

  • Terapi berbicara dan bahasa

Melalui terapi wicara, terapis dapat mengevaluasi dan membantu pengidap dalam berkomunikasi. Anak akan diajarkan atau dilatih mengenai nada atau intonasi yang sesuai, mengekspresikan diri melalui mimik dan pemilihan kata, memahami lawan bicara melalui mimik wajah, percakapan, dan gestur (tangan), dan lain sebagainya.

  • Terapi perilaku kognitif (CBT)

CBT merupakan jenis psikoterapi yang dapat membantu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku yang negatif. Harapannya anak akan mengubah cara pikirnya sehingga dapat mengontrol emosi dan perilaku repetitif atau yang diulang-ulang. Terapi ini dapat membantu mengatasi kecemasan, depresi, dan tantangan pribadi lainnya atau kesulitan sehari-hari.

  • Terapi fisik (PT) dan terapi okupasi (OT)

PT dan OT dapat membantu meningkatkan keterampilan motorik halus dan koordinasi. PT juga dapat membantu anak-anak dengan Asperger mengatasi masalah sensorik.

  • Edukasi dan pelatihan orang tua
  • Obat-obatan

Tidak ada obat-obatan yang diperuntukkan khusus untuk sindroma Asperger atau gangguan spektrum autisme lain. Obat-obatan digunakan pada gejala yang menyertai seperti adanya ansietas atau kecemasan, atau depresi.

 

Tak perlu takut dan khawatir jika anak menunjukkan gejala sindroma Asperger atau gangguan spektrum autisme lainnya. Jika anak berperilaku dan memiliki ciri seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, konsultasikan kepada dokter, dokter spesialis anak, atau psikiater untuk mendiskusikan rencana terapi. Dengan penatalaksanaan yang tepat, anak akan dapat menjalani hidup senormal mungkin.

Sumber gambar: Free stock

Leave a Reply

Your email address will not be published.